BaileoIcon

TAPAKMAYA JARINGAN BAILEO MALUKU

Perbaharuan terakhir: 30 Juli 2004

 

IndoMalukuMap

BETA PETTAWARANIE

 

Apa saja yang anda ketahui tentang Maluku selama ini, selain rempah-rempah, Kesultanan Ternate & Tidore, Laut Banda, terumbu karang, sagu, penyanyi pop nasional, dan kerusuhan sosial tahun 1999-2002?

 

INFORMASI DASAR

Geografi gapbullet Terletak di antara 124-135 derajat bujur timur (sepanjang 1.224 kilometer); dan di antara 3 derajat lintang utara dan 8 derajat lintang selatan (sepanjang 1,281 kilometer). Terdiri dari 1.028 pulau besar dan kecil, berpenghuni maupun tidak, tepat di lintasan lengkung Cincin Api dari puluhan gunung berapi aktif, baik di permukaan maupun di dasar laut. Di antara pulau-pulaunya yang terkenal, antara lain, Ternate, Tidore, Halmahera (di bagian utara); Buru, Seram, Ambon, Lease, dan Banda (di bagian tengah); serta Aru, Kei, Tanimbar, dan Wetar (di bagian tenggara dan selatan).

Luas gapbullet Seluruhnya adalah 854.490 km2, terdiri dari 77.990 km2 daratan (9,1%), dan 776.500 km2 laut (90.9%). Laut terluas dan terdalam di Indonesia, terdapat disini, yakni Laut Banda yang mencapai kedalaman 30.000 kaki (sekitar 10.000 meter).

Pemerintahan gapbullet Sejak tahun 2000, terbagi dalam dua propinsi (Maluku dan Maluku Utara). Ada 5 Kabupaten dan Kota di Propinsi Maluku Utara (Halmahera Utara, Halmahera Tengah, Halmahera Selatan, Tidore, dan Kota Ternate). Di Propinsi Maluku, ada 8 Kabupaten & Kota (Seram Barat, Seram Timur, Buru, Maluku Tengah, Maluku Tenggara, Maluku Tenggara Barat, Kepulauan Aru, dan Kota Ambon).

Penduduk & Budaya gapbullet Jumlah penduduk (1999) adalah 1,086,500 jiwa dengan tingkat kepadatan 27 jiwa per km2. Mata pencaharian utama mereka adalah sebagai nelayan tradisional dan petani lahan kering (54%). Mereka beragama Kristen Protestan (40%), Islam (35%), Katolik (15%), dan lainnya (10%). Bahasa sehari-hari adalah bahasa nasional, Bahasa Indonesia, dalam dialek Melayu-Ambon. Terdapat sekitar 40 bahasa atau dialek lokal dari rumpun besar Austronesia maupun non-Austronesia. stopperbullet

 

WalirIslands

BETA PETTAWARANIE

Foto udara dari pulau kecil Walir di tengah Laut Banda, salah satu yang paling dan masih terpencil sampai kini.

 

Para tetua Desa Ihamahu, Kepulauan Lease, Maluku Tengah, mempersiapkan upacara adat Tutup Sasi Kelapa.

SasiIhamahu

ULIS LEUNUFNA

 

AmbonAirport

BETA PETTAWARANIE

Bandar-udara Pattimura di Ambon dengan fasilitas baru hasil renovasi besar segera setelah kerusuhan 1999.

TualShipyard

VEGY ELMAS

Kapal-kapal ikan asing yang tertangkap di Laut Arafura, ditambat di pangkalan Angkatan Laut di Tual.

 

INDIKATOR POKOK PEREKONOMIAN

Pertumbuhan Ekonomi gapbullet Dengan memasukkan pendapatan dari minyak dan gas-bumi, maka rerata laju pertumbuhan ekonomi Maluku secara keseluruhan adalah 4,1% (1995); 5,5% (1996); 1,9% (1997); dan -6,2% (1998).

Produk Domestik Regional Bruto gapbullet Sampai tahun 1999, tertinggi adalah pada sektor kehutanan dan perikanan (27,2%); manufaktur (19,2%); perdagangan dan pariwisata (18,6%); jasa pelayanan (11,5%); konstruksi (6,6%); transportasi dan telekomunikasi (5,9%); jasa keuangan dan perbankan (5,8%); pertambangan (4,7%); dan lainnya (0,6%).

Pendapatan Ekspor gapbullet Sampai 1999, tertinggi adalah dari ekspor kayu-lapis (54,9%, senilai US$ 266 juta); ikan-beku (17,3%, US$ 83,6 juta); kayu olahan (8,4%, US$ 41 juta); udang & lobster (8,2%; US$ 39,8 juta); nikel (6,8%, US$ 33,3 juta); pisang (0,8%, US$ 3,9 juta); minyak-kelapa (0,7%, US$ 3,6 juta); mutiara (0,4%, US$ 2,3 juta); pala (0,3%, US$ 1,8 juta); dan lainnya (1,6%, US$ 8,1 juta).

Pendapatan per kapita gapbullet Sampai tahun 1998, tertinggi adalah di Kota Ambon (rata-rata US$ 857 per tahun); Halmahera Tengah (US$ 500); Maluku Utara (US$ 393); Maluku Tengah (US$ 379); dan yang terendah di Maluku Tenggara (US$ 322). Krisis ekonomi kawasan Asia Timur dan Tenggara tahun 1999-2001 telah membuat angka-angka tersebut menurun drastis menjadi sekitar separuhnya. stopperbullet

AmbonPierworkers

BETA PETTAWARANIE

 

AmbonPedicabs

BETA PETTAWARANIE

Kerusuhan dan konflik sosial 1999-2002 antara lain membuat semakin banyak tukang-becak di kota Ambon (atas); dan buruh kasar di pelabuhan Yos Sudarso (kiri).

Sampai 1999, sebelum kerusuhan dan konflik sosial besar meledak pada tahun 1999, wilayah Seribu Pulau ini mampu mencapai hasil yang cukup mengesankan sebagai salah satu dari lima propinsi dengan Indeks Pembangunan Manusia (Human Development Index) tertinggi di seluruh Indonesia, di bawah (1) Jawa Barat; (2) Jogyakarta; (3) Kalimantan Barat; dan (5) Riau. stopperbullet

 

bluedamsel

smallarrow Kembali ke atas

smallarrow RUMAH smallarrow PETA TAPAK smallarrow ENGLISH