|
|
TAPAKMAYA JARINGAN BAILEO MALUKU Perbaharuan terakhir: 30 Juli 2004 |
|
TAN JO HANN TERSEBAR, TERPENCIL, KURANG PRASARANA Wilayah Kabupaten Maluku Tenggara, Maluku Tenggara Barat, dan Kepulauan Aru adalah kepulauan yang tersebar. Banyak kecamatan masih terpencil, nyaris tak ada prasarana transportasi dan telekomunikasi yang memadai. GAMBAR ATAS: penduduk dari Pulau Taam di tengah Laut Banda mendayung sampan sehari-semalam hanya untuk datang menjual mangga mereka yang tak seberapa di emperan pasar Kota Tual di pulau Kei Kecil. Untuk mencapai Tual, mereka terpaksa harus berperahu layar kecil atau bahkan bersampan sehari semalam suntuk. GAMBAR BAWAH: Program pemerintah sering tak menjangkau mereka, sehingga penduduk terpaksa membangun prasarananya sendiri seadanya, seperti nelayan Desa Evu, Kei Kecil ini membangun dermaga perahu sepenuhnya dengan swadaya mereka sendiri.
Program semacam PPK mestinya memiliki pelaksana lapangan yang peka melihat semua permasalahan ini. Yang paling penting adalah mereka benar-benar bekerja sebagai
VEGY ELMAS |
|
BIROKRASI LOKAL
MASIH BERMENTAL Evaluasi terhadap Proyek Pengembangan Kecamatan di Kabupaten Maluku Tenggara, Maluku Tenggara Barat, dan Kepulauan Aru
Setelah menandatangani kontrak kerja (senilai Rp 107 juta untuk masa kerja 4 bulan) dengan Departemen Dalam Negeri RI, pada bulan Maret 2003, perusahaan jasa konsultan Jaringan Baileo Maluku, MICROS (Maluku Institutional Capacity & Resources Consultants), telah melakukan pemantauan dan evaluasi Proyek Pengembangan Kecamatan (PPK) di beberapa lokasi proyek di Kabupaten Maluku Tenggara, Maluku Tenggara Barat, dan Kepulauan Aru. Sejak Agustus 2003, tim konsultan MICROS telah melakukan perjalanan ke Kepulauan Aru, Tanimbar, dan Kepulauan Kei. Selain melakukan pengamatan langsung di lapangan dan menemui masyarakat penerima bantuan proyek, mereka juga berdiskusi dengan para Fasilitator Desa (FD) dan Fasilitator Kecamatan (FK) PPK. Tim MICROS telah menyampaikan laporan hasil pemantauan mereka secara rutin setiap bulan kepada pemberi pekerjaan di Jakarta, dan kini menyelesaikan laporan akhirnya.
Dalam laporan-laporan bulanannya, tim MICROS memaparkan banyak temuan menarik yang memperlihatkan dengan jelas betapa masih lemahnya kemampuan para fasilitator lapangan proyek tersebut. Selain wawasan dan pemahaman menyeluruh dan mendalam pada konsep dasar program, ketrampilan metodologis dan teknis juga masih sangat lemah. Tetapi yang paling menonjol adalah sikap dan prilaku mereka yang cenderung tertutup, dan memperlakukan program ini seolah-olah
|
|
|
|