|
|
TAPAKMAYA JARINGAN BAILEO MALUKU Perbaharuan terakhir: 30 Juli 2004 |
|
HANS WAMIR Salah seorang aktivis Jaringan Baileo Maluku yang akhirnya berhasil terpilih sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) adalah Hans Wamir, Direktur Yayasan Nen Mas Il di Kei Kecil, Maluku Tenggara. Tetapi, Hans akan memasuki gedung DPRD Kabupaten Aru, daerah asalnya. Dia memenangkan suara mutlak di daerah pemilihan Aru I (wilayah Aru Utara) sebagai calon dari Partai Pelopor. Bersamanya, terpilih pula seorang organiser lokal Yayasan Lisi Bijarum, Yusuf Saipin, di daerah pemilihan Aru III (wilayah Aru Selatan), sehingga dua orang aktivis Jaringan Baileo Maluku ini akan memasuki gedung DPRD Aru di Dobo. Ini berarti, sesuai dengan Statuta Jaringan, Hans sebentar lagi harus melepaskan jabatannya sebagai Direktur Nen Mas Il. Demikian pula dengan M. Edo Rahail, yang terpilih sebagai anggota DPRD Kabupaten Maluku Tenggara di Tual, juga segera harus melepaskan semua jabatannya selama ini sebagai Direktur Yayasan Pengembangan Maur Ohoiwut dan PT. Arumbai. Segera setelah menyelesaikan kuliahnya di IKIP (sekarang Universitas Negeri Makasar), Hans bergabung dengan Jaringan Baileo Maluku pada tahun 1994, dalam angkatan pertama organiser lokal Yayasan Nen Mas Il yang diperbantukan pada Yayasan Lisi Bijarum di Aru. Setahun kemudian, dia ditarik sebagai Koordinator Program di Nen Mas Il, dan sejak 2001 menjabat sebagai Direktur. Kabupaten Aru adalah kabupaten baru hasil pemekaran kabupaten sesuai dengan UU Otonomi Daerah No.22/1999. Karena itu, menjadi tantangan bagi Hans dan Yusuf untuk merintis landasan awal kebijakan dan strategi pembangunan daerah ini. Banyak orang bahkan sudah menyarankan kepada Hans untuk melangkah lebih jauh: mencalonkan diri sebagai Bupati. Tetapi, orang yang sehari-harinya bernampilan sederhana ini menyatakan lebih berminat berkonsentrasi dulu di DPRD. Dia memiliki potensi besar untuk terpilih sebagai Ketua DPRD kabupaten baru tersebut. Ayah seorang putra ini menyatakan akan memperjuangkan tema-tema utama Jaringan Baileo Maluku selama ini: penguatan otonomi lokal masyarakat adat, terutama dalam penguasaan dan pengelolaan sumberdaya alam setempat. Selain Hans, Yusuf, dan Edo, seorang relawan Yayasan Nen Mas Il lainnya, Mohamad Sabtu Ohoira, juga terpilih sebagai anggota DPRD Propinsi Maluku di Ambon, mewakili Partai Keadilan Sejahtera (PKS).
Kepada mereka semua, kita hanya berharap agar benar-benar mampu menjadi Foto-foto: MOSES SIRKEN |
|
MEMASUKI GELANGGANG POLITIK Orang-orang Baileo Maluku Ikut Pemilihan Umum 2004
Setelah melalui proses konsultasi panjang, sejak tahun 2002, dengan semua masyarakat basis yang mendesakkan agar ada orang-orang Baileo menempuh jalur politik resmi untuk memperjuangkan hak-hak dan aspirasi mereka, maka sampai Desember 2003 telah terseleksi belasan orang organiser lokal yang dipersiapkan mengikuti Pemilihan Umum 2004 sebagai calon-calon anggota legislatif. Beberapa partai politik yang akan dijadikan sebagai Sebagian besar dari mereka yang terpilih masuk politik tersebut, memang akan berkonsentrasi pada tingkat Kabupaten: memasuki gedung-gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) di Kabupaten Maluku Tenggara, Maluku Tenggara Barat, Kepulauan Aru, Buru, dan Seram Timur! Tujuannya jelas sejak awal: mencoba langsung dari dalam mempengaruhi kebijakan pemerintah daerah ini agar benar-benar berfihak kepada rakyat setempat, bukan untuk kepentingan kelompok dan diri sendiri. Sudah bukan rahasia lagi bahwa kualitas anggota DPRD di beberapa Kabupaten di Maluku tersebut, sama seperti umumnya DPRD lain di Indonesia hasil Pemilu 1999, sangat memprihatinkan. Ambil contoh Maluku Tenggara. Sementara daerah ini masih merupakan salah satu kabupaten terpencil dan terkebelakang di Indonesia (bahkan dalam skala Propinsi Maluku sekalipun), para anggota DPRD nya malah sibuk dengan diri, kelompok, dan partai sendiri. Bahkan untuk memilih seorang Bupati saja, mereka sampai harus cakar-cakaran selama hampir 4 tahun! Mereka lupa (atau tak tahu?) salah satu diktum pokok lembaga demokrasi perwakilan: sekali terpilih dan berada disana, seseorang bukan lagi wakil partai, tapi wakil rakyat yang memilihnya, terutama masyarakat dari wilayah pemilihannya! Sementara statistik mutakhir UNDP (Human Development Index 2001) masih menempatkan daerah ini sebagai kabupaten dengan pendapatan per kapita terendah, hanya sekitar US$ 319 (sekitar Rp 2,7 juta saja), para anggota DPRD nya malah terus menuntut kenaikan gaji, fasilitas mewah, ongkos jalan-jalan (studi banding?), dan berbagai macam tunjangan, termasuk tunjangan akhir jabatan, konon sebesar Rp 125 juta per orang, 50-60 kali lipat dari rerata penghasilan rakyat yang (katanya!) mereka wakili. Padahal, untuk membiayai belanja rutin pemerintah daerah saja, kabupaten ini masih mengandalkan bantuan pemerintah pusat melalui mekanisme Dana Alokasi Umum (DAU) dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN)!
Semua itu harus menjadi pelajaran penting bagi orang-orang Jaringan Baileo yang kini bersiap-siap maju untuk menggantikan mereka: jangan mengulangi semua kelemahan dan kesalahan semacam itu! Tengoklah DPRD Wonosobo, Jawa Tengah, misalnya, yang semua anggotanya bersepakat untuk digaji tak lebih dari rata-rata pendapatan per kapita penduduk yang mereka wakili. Sejak reformasi politik Indonesia tahun 1999, mereka telah mengukir sejarah sebagai DPRD yang relatif paling bersih dari korupsi dan perselingkuhan politik yang memuakkan, sesuatu yang oleh seorang pemikir politik dan aktivis gerakan sosial terkemuka abad ini, Herbert Marcuse, disebut sebagai
Dalam konteks Maluku Tenggara, khususnya Kepulauan Kei, pakar geografi politik yang menyelesaikan riset lapangan (1997-98) dan disertasi doktornya (2000) tentang Kei,
Craig Thorburn,
pernah menyimpulkan bahwa salah satu masalah utama yang menimbulkan banyak konflik di Kei selama ini adalah
Menjadi wakil rakyat di DPRD adalah juga menjadi
Jelas, tak ada kepala tegak tanpa bahu!
Aktivis Jaringan Baileo Maluku lainnya yang ikut Pemilihan Umum 2004, tetapi gagal terpilih sebagai anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Maluku di Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) di Jakarta, adalah Junus Jeffry
(Nus Ukru).
Dia hanya berhasil menduduki peringkat-6 dari 23 calon, karena yang terpilih adalah peringkat 1-4 saja. Tetapi Nus tidak kecewa. Dia malah menyatakan ini semacam
|
|
|
|